Berita  

Strategi BPKH Kelola Dana Haji Aman dan Bermanfaat

Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) mengarahkan pengelolaan dana haji ke instrumen berpendapatan tetap yang dinilai memiliki risiko relatif rendah, terutama di tengah kondisi pasar yang bergejolak. Salah satu instrumen syariah yang menjadi perhatian adalah Surat Berharga Syariah Negara (SBSN).

Kepala Badan Pelaksana BPKH Fadlul Imansyah mengatakan, pilihan tersebut berkaitan dengan kebutuhan menjaga keamanan dana sekaligus memperoleh imbal hasil yang menarik. Menurut dia, instrumen surat berharga negara menjadi pilihan yang relatif aman dalam kondisi ekonomi saat ini. Karena pengelolaan dana haji harus memenuhi prinsip syariah, instrumen itu diarahkan pada SBSN.

“Kalau saya melihatnya di ekonomi sekarang, yang paling aman itu justru risk-free investment, Surat Berharga Negara. Di kita karena harus ada syariahnya, jadi SBN-nya ditambah SBSN,” kata Fadlul saat berbincang dengan CNBC Indonesia.

Peluang saat pasar bergejolak

Fadlul menjelaskan, strategi investasi BPKH dapat menggunakan pendekatan kontrarian, yakni memanfaatkan situasi ketika sebagian pelaku pasar cenderung menahan diri akibat volatilitas. Dalam kondisi tersebut, instrumen tertentu bisa menawarkan tingkat imbal hasil yang lebih tinggi.

Salah satu contohnya adalah deposito. Fadlul menyebut, tingkat imbal hasil deposito saat ini dapat berada di atas 6 persen. Bagi pengelola dana dengan jangka investasi panjang dan kebutuhan likuiditas yang dapat diperkirakan, kondisi itu membuka ruang untuk menempatkan dana pada instrumen dengan pendapatan yang lebih pasti.

“Kalau kita bicara sebagai kontrarian, time deposit sekarang juga bisa di atas 6%,” ujarnya.

Peluang serupa dapat muncul di pasar surat berharga ketika terjadi tekanan yang mendorong kenaikan yield. Dalam mekanisme pasar, harga surat berharga dan yield bergerak berlawanan arah. Ketika harga turun, yield yang ditawarkan kepada investor dapat meningkat.

“Pada saat ada market agak sedikit batuk-batuk, itu kesempatan buat kami. Misalnya, wah ini yield-nya 7,3%, 7,2%. Kita bisa beli nggak nih?” kata Fadlul.

Ia menambahkan, kondisi tersebut dapat membuat SBSN dengan yield lebih dari 7 persen menjadi menarik bagi pengelola dana. “Kapan lagi dapat yield di atas 7%? Jadi ibaratnya tidak ngapa-ngapain, beli Surat Berharga Syariah Negara dapat 7%,” ujarnya.

Akumulasi dana memperkuat daya tawar

Fadlul menyebut dana haji memiliki karakteristik berupa arus dana yang terus masuk seiring pendaftaran haji oleh masyarakat. Keinginan umat Islam untuk menunaikan ibadah haji membuat pendaftaran menjadi kebutuhan jangka panjang.

“Orang yang belum daftar haji, ultimate goal-nya sebagai Muslim kan harus haji. Jadi bagaimana caranya saya harus berangkat haji, mengumpulkan uang dan sebagainya,” tuturnya.

Akumulasi dana tersebut memberi ruang bagi BPKH untuk mengelola portofolio dalam skala besar. Menurut Fadlul, besarnya dana yang dikelola juga memperkuat posisi tawar BPKH saat menempatkan dana, termasuk ketika bernegosiasi dengan perbankan untuk memperoleh tingkat imbal hasil yang kompetitif.

“Cashflow yang menguntungkan dari sisi pengelolaan, dengan dana yang terakumulasi besar kita masuk ke deposito, kita punya bargaining power untuk meminta rate yang lebih baik,” katanya.

Meski peluang imbal hasil tersedia, Fadlul mengatakan tantangan dalam investasi syariah bukan hanya menemukan instrumen dengan yield menarik. Ketersediaan SBSN di pasar juga menjadi persoalan karena penerbitannya tidak terlalu banyak, sementara permintaan investor terus meningkat.

“Likuiditas bukan isu. Kenapa? Karena surat berharganya sendiri memang secara issuance-nya itu tidak terlalu banyak. Sementara permintaannya semakin banyak,” ujar Fadlul.

Situasi itu membuat SBSN dengan yield menarik berpotensi langsung diperebutkan ketika dilepas oleh investor lain. Karena itu, BPKH tetap perlu memastikan apakah instrumen yang diincar tersedia dan dapat dibeli di pasar.

Source link