IPM Banyuwangi Terus Meningkat, Mendikdasmen Peringati Hardiknas di Taman Blambangan
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti memilih Banyuwangi sebagai tempat peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang berlangsung di Taman Blambangan pada Sabtu (2/5/2026). Acara tersebut diikuti oleh ribuan pelajar dan guru. Di samping itu, indeks Pembangunan Manusia (IPM) Banyuwangi dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan.
IPM Banyuwangi Terus Meningkat
Pada tahun 2025, IPM Banyuwangi mencapai angka 75,17, meningkat dari tahun sebelumnya yang berada di angka 74,3. Trend positif peningkatan IPM ini juga terlihat dari tahun sebelumnya, yaitu 73,79 (2023), 73,15 (2022), dan 72,62 (2021). Dengan pencapaian tersebut, Banyuwangi menjadi salah satu daerah dengan IPM tertinggi di Jawa Timur.
Program Pendidikan Kreatif di Banyuwangi
Banyuwangi memiliki beragam program kreatif di bidang pendidikan, seperti Gerakan Daerah Angkat Anak Muda Putus Sekolah (Garda Ampuh) yang bertujuan untuk membantu anak putus sekolah kembali ke bangku sekolah. Selain itu, program Siswa Asuh Sebaya juga membantu siswa kurang mampu dengan mengumpulkan sumbangan dari siswa lain untuk keperluan mereka, seperti membeli perlengkapan sekolah atau kebutuhan lainnya.
Selain upacara peringatan Hardiknas, Banyuwangi juga menggelar Kuntulan Ewon yang melibatkan lebih dari 1.000 pelajar dari berbagai tingkatan sekolah. Mereka berkolaborasi dengan seniman dan budayawan untuk menampilkan pertunjukan seni tradisional yang memadukan tari dan musik rebana.
Menurut Mendikdasmen, melibatkan siswa dalam kegiatan seni dan budaya akan membentuk karakter siswa yang unggul sesuai dengan visi Presiden Prabowo Subianto. Bupati Ipuk juga mengapresiasi kehadiran Mendikdasmen dalam memperingati Hardiknas di Banyuwangi serta menekankan pentingnya pengembangan potensi siswa di berbagai bidang.
Bagi Banyuwangi, pendidikan bukan hanya tentang prestasi akademis, tetapi juga bagaimana menggali potensi anak-anak dalam berbagai bidang seperti seni dan budaya. Terlibatnya pelajar dalam kegiatan seni dan budaya, seperti Kuntulan Ewon, adalah upaya untuk memperkaya pengalaman pendidikan mereka lebih dari sekadar teori di dalam kelas.
Sumber: SUARA INDONESIA












