Tragedi perusakan ratusan ribu pohon kopi di Desa Kaligedang, Kecamatan Sempol, Bondowoso kembali mencuri perhatian masyarakat. Kejadian ini berdampak pada mata pencarian sekitar 3.500 buruh kebun yang bergantung pada produksi kopi di lereng Gunung Ijen. Potensi konflik horizontal dan kerentanan sosial menjadi perhatian utama, dalam situasi yang juga berdampak negatif pada sektor investasi dan pariwisata di wilayah tersebut. Kerusakan yang dilaporkan mencapai 159.800 pohon kopi milik PTPN I Regional 5, telah menciptakan krisis bagi ribuan buruh kebun dan meningkatkan ketegangan sosial.
Menurut Kepala Program Studi Ilmu Pemerintahan dari Universitas Muhammadiyah Jember, Dr. Iffan Gallant El Muhammady, situasinya telah mencapai titik rawan eskalasi. Ia menekankan pentingnya penahanan eskalasi dan menghentikan sikap saling menyalahkan. Tindakan fisik dan narasi yang menuduh perlu dihentikan, dengan negara diharapkan mempertahankan posisi netral untuk mencegah ketidakpercayaan publik dan memperburuk stabilitas sosial. Krisis tersebut potensial mengarah pada benturan horizontal antara buruh yang kehilangan pekerjaan dan warga yang berharap untuk mengambil kembali lahan HGU.
Sejarah panjang kawasan Ijen menjadi konteks penting dalam memahami situasi saat ini. Sejak abad ke-19, wilayah ini dikenal sebagai pusat perkebunan kopi arabika yang bernilai tinggi. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, tensi agraria di kawasan ini terus meningkat dan mencapai puncaknya dalam perusakan besar-besaran. PTPN mencatat kerusakan pada ratusan ribu pohon kopi di area seluas 80 hektar, mengakibatkan ribuan buruh kehilangan pekerjaan dan pendapatan harian.
Kondisi tersebut memiliki dampak langsung pada ekonomi dan kesejahteraan masyarakat setempat. Kerusakan lahan dan fasilitas produksi kopi tidak hanya menghancurkan mata pencaharian buruh, tetapi juga mengancam stabilitas sosial di kawasan tersebut. Berbagai pihak, termasuk akademisi, buruh, dan tokoh lokal, mendesak pemerintah daerah untuk segera bertindak secara objektif dan mencegah eskalasi konflik yang dapat membahayakan keamanan dan stabilitas kawasan.












