Paseban Foundation Rayakan Ulang Tahun Kedua dengan Berbagai Capaian

Upaya perlindungan keanekaragaman hayati di Pulau Jawa menghadapi tekanan yang semakin berat karena pesatnya pertumbuhan penduduk dan dominasi aktivitas manusia, terutama di kawasan penyangga seperti Megamendung, Kabupaten Bogor. Kendati demikian, Paseban Foundation melalui rangkaian penelitian lapangan dan pemantauan intensif baru-baru ini berhasil membuktikan keberadaan lima jenis primata yang masih bertahan hidup bersama di seluruh lanskap Megamendung yang relatif kecil.

Pengumuman hasil riset tersebut menjadi sorotan utama dalam acara tahunan Paseban Foundation yang digelar bertepatan dengan Hari Konservasi Alam Nasional di Jakarta. Dua tahun perjalanan yayasan ini telah menghadirkan beragam pencapaian penting, termasuk pemetaan keberadaan satwa langka selain primata, seperti Elang Jawa dan Macan Tutul Jawa, juga kekayaan flora-fauna khas hutan pegunungan tropis.

Secara geografis, Megamendung sendiri berdekatan dengan zona perkotaan dan merupakan bagian dari kawasan Cagar Biosfer Cibodas, yang membawa tantangan tersendiri bagi kondisi ekologisnya. Dampak pembangunan dan aktivitas penduduk sangat terasa pada ekosistem ini, menuntut adanya tata kelola yang mampu menjaga keseimbangan antara konservasi dan pemanfaatan sumber daya secara bijak. Kerangka cagar biosfer membaginya ke dalam zona inti, penyangga, hingga area interaksi sosial-ekonomi, agar fungsi alami tetap terjaga meski bersinggungan dengan aktivitas manusia.

Ekosistem Megamendung bukanlah sekedar hutan yang berdiri sendiri, melainkan satu jaringan yang merangkum vegetasi, tata air, ruang jelajah hewan, lahan pertanian, maupun perkampungan. Hubungan ekologis demikian menciptakan tantangan untuk menjaga kelangsungan hidup satwa liar dalam arus perubahan ruang dan waktu. Menurut Wiratno, penasihat yayasan, keberhasilan konservasi tidak cukup bila hanya mengacu pada batas administrasi atau peta wilayah. Faktanya, pergerakan satwa dan aliran air mengikuti hukum alam—melampaui batas buatan manusia.

Oleh karena itu, pendekatan kolaboratif menjadi solusi utama. Paseban Foundation berupaya menghubungkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, warga lokal, pelaku usaha, hingga peneliti dan pegiat lingkungan. Semua pihak diajak terlibat dalam satu sistem manajemen ekologis yang terintegrasi. Salah satu bentuk nyata kolaborasi ini adalah penghijauan menggunakan tanaman lokal khas Megamendung. Sampai Agustus 2026, tercatat lebih dari dua puluh ribu bibit pohon endemik telah ditanam untuk memulihkan kualitas tutupan hutan di kawasan tersebut.

Di samping konservasi di habitat asli (in-situ), Paseban Foundation juga mengembangkan skema konservasi eks-situ, yaitu penangkaran hewan yang terancam agar tetap lestari meskipun berada di luar habitat alami. Untuk itu, yayasan telah mengantongi izin pengelolaan penangkaran satwa non-komersial dalam upaya membiakkan burung dan mamalia tertentu. Unit penangkaran ini telah berhasil menghasilkan tiga anak rusa yang kelak akan dilepasliarkan kembali ke alam Megamendung. Namun, sebelum dilepas, satwa-satwa ini perlu menjalani proses rehabilitasi, pelatihan naluri bertahan hidup, evaluasi kelayakan habitat, serta pemantauan pasca pelepasliaran agar tidak mengacaukan keseimbangan lingkungan.

Pemulihan lingkungan bukan sekadar serangkaian aksi cepat. Andy Utama, pendiri Paseban Foundation, memandang bahwa mengembalikan fungsi ekologis Megamendung ke kondisi mendekati aslinya merupakan perjalanan panjang yang memerlukan dedikasi lintas generasi. Inisiatif Megamendung Century Initiative pun dicanangkan sebagai visi jangka panjang untuk merevitalisasi kawasan ini dalam rentang waktu 100 hingga 200 tahun, dengan tujuan merestorasi daya dukung lingkungan sembari tetap memperhatikan keberlanjutan kehidupan masyarakat lokal.

Misi tersebut menAmplikan konsepsi konservasi secara holistik, memperkuat ketahanan habitat, mempertahankan kesinambungan rantai ekologi, serta menyeimbangkan relasi manusia dengan alam. Andy menegaskan, kesuksesan upaya konservasi sangat bergantung pada pewarisan nilai dan komitmen kepada generasi berikutnya, karena pekerjaan ini memerlukan endurance dan kontinuitas, bukan sekadar proyek sesaat.

Sumber: 5 Primata Jawa Bertahan Di Megamendung, Paseban Foundation Dorong Pemulihan Ekosistem
Sumber: Kerap Terdesak Pemukiman, Lima Primata Jawa Ditemukan Hidup Bersama Di Alam Megamendung Bogor