Pada tanggal 17 Ramadhan, peristiwa Nuzulul Quran dianggap sebagai titik balik penting dalam sejarah Islam. Malam itu, Al-Qur’an pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW di Gua Hira melalui wahyu Surat Al-‘Alaq ayat 1-5. Al-Qur’an kemudian turun secara bertahap dan dijaga dengan baik oleh para sahabat yang menghafalnya.
Salah satu sahabat yang terkenal sebagai ahli Al-Qur’an adalah Ubay bin Ka’ab. Ia adalah seorang penduduk Yatsrib atau Madinah yang cerdas, gemar membaca, dan mahir menulis. Kemampuan literasi Ubay sangat langka pada masa itu, sehingga kemahirannya menjadi hal krusial dalam masyarakat.
Ketika Mus’ab bin Umair dikirim oleh Rasulullah SAW ke Yatsrib untuk mengajarkan Islam, Ubay menjadi salah satu yang menerima dakwah dengan cepat. Ia mengikuti Baiat Aqabah, mencernyai Islam, dan menyambut Nabi Muhammad SAW saat hijrah ke Yatsrib.
Ubay dikenal sebagai sahabat yang penuh ketakwaan. Ia sering menangis saat menyebut nama Allah SWT, dan suaranya yang penuh penghayatan saat membaca Al-Qur’an membuat orang-orang di sekitarnya terharu.
Suatu ketika, Rasulullah SAW memberi tahu Ubay bahwa Malaikat Jibril memerintahkan untuk membacakan Al-Qur’an dengan khusus kepadanya. Hal ini membuat Ubay merasa terharu dan bersyukur atas amanah yang diberikan kepadanya.
Selama hidupnya, Ubay menjadi panutan dalam hal Al-Qur’an. Khalifah Umar bin Khattab bahkan menyebutnya sebagai tokoh utama kaum Muslimin dalam hal Al-Qur’an. Peran Ubay menunjukkan betapa pentingnya pengajaran dan pemeliharaan Al-Qur’an sejak masa awal Islam.
Wafatnya Ubay bin Ka’ab meninggalkan duka yang mendalam di kalangan kaum Muslimin. Banyak yang menghormati jasanya dalam menjaga dan mengajarkan Al-Qur’an. Setiap Ramadan, peringatan Nuzulul Quran menjadi pengingat bahwa Al-Qur’an adalah pedoman hidup, bukan hanya sekadar bacaan. Tradisi tadarus dan khataman Al-Qur’an hari ini merupakan warisan dari para sahabat seperti Ubay bin Ka’ab yang menjaga Al-Qur’an dengan penuh ketakwaan dan pengorbanan.












