Keluarga Kacab Bank Alami Trauma Mendalam Akibat Kasus Pembunuhan
Jakarta – Keluarga korban pembunuhan kepala cabang bank mengalami trauma yang sangat mendalam, terutama bagi anak-anak yang harus tumbuh tanpa sosok ayah akibat kasus tragis tersebut.
Menurut kakak korban, Taufan, mencoba untuk mengungkapkan beban psikologis yang dirasakan keluarga setelah hampir satu tahun berlalu sejak kejadian memilukan itu. Anak-anak yang masih terlalu kecil harus kehilangan ayah yang selama ini menjadi bagian penting dalam kehidupan mereka.
Implikasi Kehilangan Bagi Anak-Anak
Taufan mengungkapkan bahwa kehilangan seorang ayah bukan hanya berdampak pada kondisi emosional anak-anak korban saat ini, tetapi juga berpotensi memengaruhi perkembangan mereka di masa depan. Trauma yang begitu mendalam ini akan menyangkut berbagai aspek kehidupan mereka.
“Kasus ini menyisakan trauma yang sangat luar biasa dan rasanya sulit bagi mereka untuk bisa melupakan kejadian pahit tersebut,” jelas Taufan.
Harapan Keluarga atas Proses Hukum
Di tengah duka yang masih membekas, keluarga berharap seluruh proses hukum yang sedang berjalan dapat memberikan rasa keadilan. Mereka meyakini bahwa keadilan tidak hanya diukur dari putusan hukum semata, tetapi juga dari bagaimana negara memberikan perlindungan dan kepastian bagi korban serta keluarga yang ditinggalkan.
Selain anak-anak korban, kehilangan juga dirasakan oleh istri dan keluarga besar almarhum. Keluarga korban menegaskan bahwa apa pun hasil proses hukum yang dijalani saat ini, kehilangan tersebut tidak akan pernah tergantikan.
Adapun dalam amar putusannya, majelis hakim menyatakan terdakwa satu, Serka Mochamad Nasir, dijatuhi hukuman penjara selama 13 tahun, terdakwa dua, Kopda Feri Herianto dijatuhi hukuman penjara selama tujuh tahun, sedangkan terdakwa tiga, Serka Frengky Yaru dijatuhi hukuman penjara selama satu tahun.












