Risiko Radiator Mobil jika Coolant Tidak Boleh Dicampur

Radiator coolant memiliki peran penting dalam menjaga suhu kerja mesin kendaraan tetap stabil. Cairan ini tidak hanya berfungsi mendinginkan, tetapi juga melindungi komponen sistem pendingin dari risiko korosi. Dalam radiator coolant, terdapat kandungan utama berupa ethylene glycol yang berfungsi mengatur tingkat penguapan serta efektivitas pendinginan sesuai dengan teknologi mesin. Komposisinya pun disesuaikan dengan kebutuhan, terutama untuk mesin modern seperti direct injection, turbocharged, hingga kendaraan hybrid dan listrik. Presiden Direktur PT Autochem Industry (AI), Henry Sada, menjelaskan bahwa keandalan radiator coolant tidak hanya dilihat dari kemampuan melepaskan panas mesin, tetapi juga dari kemampuannya menekan timbulnya karat dalam sirkulasi radiator. Faktor-faktor seperti penggunaan air biasa atau air keran yang mengandung mineral dan klorin dapat mempercepat proses karat pada logam dalam sistem pendingin. Radiator yang tidak dibersihkan atau cairannya tidak diganti secara berkala juga berisiko mengalami penumpukan kerak dan karat. Ada dua jenis teknologi aditif anti karat dalam radiator coolant, yaitu IAT (Inorganic Acid Technology) dan OAT (Organic Acid Technology). IAT umumnya digunakan pada kendaraan dengan radiator berbahan tembaga atau kuningan, dengan usia pakai sekitar 2-3 tahun atau 40.000 km. Sementara itu, OAT lebih modern dan cocok untuk mesin modern yang umumnya menggunakan material aluminium, dengan usia pakai sekitar 5-10 tahun atau hingga 100.000 km. Teknologi OAT juga dianggap lebih ramah lingkungan dan memiliki tingkat penguapan yang lebih rendah.

Source link