Lonjakan harga bahan bakar global telah mengubah perilaku konsumen otomotif di Australia, terutama terlihat dari meningkatnya minat masyarakat terhadap mobil listrik atau electric vehicle (EV). Menurut laporan dari The Canberra Times, banyak warga Australia beralih dari mobil berbahan bakar konvensional ke kendaraan listrik sebagai respons terhadap krisis bahan bakar global yang membuat harga BBM melonjak tajam. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah telah mengganggu pasokan minyak, sehingga harga solar di Australia menjadi sangat tinggi, mencapai lebih dari 3 dolar Australia per liter.
Produsen mobil listrik, seperti Tesla, melihat peningkatan minat konsumen yang signifikan. Stok mobil listrik Tesla ludes terjual sepanjang Maret 2026, terutama di wilayah New South Wales dan Queensland. Selain Tesla, pabrikan lain seperti Polestar juga merasakan dampak peningkatan minat konsumen terhadap mobil listrik. Electric Vehicle Council mencatat bahwa penjualan mobil listrik naik 39,2 persen sepanjang kuartal pertama 2026 di Australia.
Kondisi pasokan bahan bakar yang tidak stabil juga mendorong pemerintah Australia untuk mempertimbangkan insentif seperti pembebasan pajak fringe benefits guna mendorong adopsi kendaraan listrik secara lebih luas. Selain itu, beralih ke mobil listrik dianggap sebagai keputusan ekonomis yang menguntungkan karena konsumen dapat menghemat hingga 3.000 dolar Australia per tahun dari biaya operasional, terutama karena tidak lagi tergantung pada bahan bakar fossi.












