Berita  

Arti Ikhtiar dan Tawakal dalam Al-Qur’an dan Hadis

Manusia selalu dihadapkan pada ruang usaha dan ketidakpastian dalam setiap keputusan hidupnya, seperti memilih jurusan, bisnis, pernikahan, atau investasi. Konsep ikhtiar dan tawakal menjadi relevan dalam menghadapi realitas, tidak hanya sebagai ajaran spiritual, tetapi juga sebagai kerangka berpikir. Dalam Islam, kehidupan tidak sepenuhnya bisa dikendalikan manusia, namun juga tidak diajarkan untuk hanya pasrah tanpa berusaha. Ikhtiar, berasal dari bahasa Arab ikhtiyara, adalah usaha sungguh-sungguh dengan segala kemampuan untuk mencapai tujuan. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an tentang pentingnya perubahan diri sendiri sebelum mengharapkan perubahan keadaan.

Tawakal, berasal dari kata tawakkala, adalah sikap menyerahkan hasil akhir sepenuhnya kepada Allah setelah melakukan ikhtiar dengan sungguh-sungguh. Dalam hadis, Rasulullah SAW memberi gambaran burung yang keluar mencari makan sebagai contoh ikhtiar yang dilanjutkan dengan tawakal. Dalam bisnis, seorang pengusaha perlu melakukan riset, membangun sistem, dan mengelola arus kas sebagai upaya ikhtiar, namun tidak boleh terlalu cemas terhadap hasil. Dalam era ketidakpastian ekonomi global dan disrupsi teknologi, ikhtiar berarti terus meningkatkan kompetensi dan beradaptasi, sementara tawakal menjadi penyeimbang untuk menjaga stabilitas batin.

Keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal mengajarkan manusia agar tidak terlalu mengendalikan hasil yang sejak awal tidak sepenuhnya berada di tangan. Dengan memahami keterbatasan kendali manusia, tawakal membebaskan individu dari tekanan berlebihan terhadap hasil yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan. Sehingga, dalam menghadapi ketidakpastian dan perubahan, ikhtiar dan tawakal menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan yang penuh dengan tantangan.

Source link