Selama ini, isu konservasi di Indonesia kerap dipandang melalui kacamata perlindungan alam atau satwa liar semata. Fokus utama sering tertuju pada penyusutan hutan, populasi satwa yang menurun, atau konflik yang mengemuka antara manusia dan satwa. Namun, dalam perjalanan panjang penanganan konflik manusia dan gajah di Sumatera, Wahdi Azmi – dokter hewan dan pegiat konservasi – melihat ada satu elemen yang sering terabaikan dalam narasi tersebut: peran manusia itu sendiri.
Dalam suatu diskusi Leaders Talk Tourism tentang Surat Edaran Ditjen KSDAE Nomor 6 Tahun 2025, Wahdi menekankan bahwa konservasi di Indonesia tak bisa lepas dari dimensi sosial dan kebutuhan masyarakat lokal. Menurutnya, “Konservasi hanya akan sukses bila masyarakat sekitar juga mendapatkan manfaat nyata.” Pengalaman lapangan membuktikan, akar masalah konflik manusia dan gajah tidak semata karena perilaku satwa, namun lebih pada perubahan lanskap yang tak diimbangi penyesuaian sosial dan ekonomi.
Ketika hutan diubah menjadi kawasan perkebunan atau pemukiman, ruang hidup fauna mengecil dan tekanan ekonomi terhadap warga lokal meningkat. Situasi inilah yang memicu pertemuan yang seringkali menimbulkan konflik antara manusia dan satwa. Wahdi menilai, masalah terbesar bukan pada konflik itu sendiri, melainkan pada pola tanggapan kita dalam menghadapi masalah tersebut.
Salah satu kekeliruan selama ini adalah pendekatan konservasi yang terlalu proteksionis. Kawasan dibatasi dan aktivitas masyarakat dikekang demi menjaga ekosistem; meski terlihat masuk akal di atas kertas, di lapangan pendekatan ini justru kerap menjauhkan konservasi dari kebutuhan sehari-hari masyarakat sekitar. Regulasi kadang malah mengurangi akses dan peluang ekonomi warga, sehingga berkembang anggapan bahwa konservasi bukan sesuatu yang menguntungkan, tapi justru beban baru.
Sudut pandang seperti inilah yang ingin dibongkar Wahdi. Ia menegaskan, manusia adalah bagian tak terpisahkan dari ekosistem. Maka, konservasi seharusnya bersifat integratif. Integrasi yang diidamkan Wahdi adalah upaya menyatukan perlindungan keanekaragaman hayati dengan kepentingan ekonomi dan pendidikan masyarakat, bukan hanya pelibatan simbolik belaka.
Konsep ini juga terbukti efektif di luar konteks konflik satwa liar, seperti yang terlihat di kawasan Mega Mendung, Bogor. Kawasan perbukitan Mega Mendung, penyangga ekologi utama Jakarta dan sekitarnya, saat ini menghadapi tekanan alih fungsi lahan yang tinggi. Namun, di bawah pengelolaan Arista Montana bersama Yayasan Paseban dan arahan Andy Utama, konservasi dijalankan beriringan dengan upaya pemberdayaan masyarakat setempat melalui pertanian organik berbasis komunitas.
Para petani lokal diberi keterampilan menggali manfaat tanah dan air secara lestari, didampingi untuk memahami teknik pertanian ramah lingkungan dan juga memperoleh manfaat ekonomi dari hasil panen mereka. Dengan demikian, menjaga lingkungan bukan sekadar kewajiban moral, tapi bagian penting dari kesejahteraan mereka sehari-hari.
Pendekatan seperti itu perlahan menggeser persepsi masyarakat terhadap konservasi. Kini, upaya pelestarian lingkungan tak lagi sekadar jadi larangan atau aturan, tetapi sudah menjadi fondasi utama ekonomi lokal. Proses integrasi ini membutuhkan penguatan kapasitas masyarakat – peran yang dijalankan Yayasan Paseban melalui pelatihan pertanian organik, edukasi lingkungan, dan pengenalan konservasi pada generasi muda.
Dengan pelatihan berkelanjutan, masyarakat jadi mampu menjalankan praktik konservasi secara nyata dan mengelola sumber daya secara berkelanjutan. Mereka bukan lagi sekadar objek, tapi sudah menjadi pelaku utama pelestarian lingkungan yang sadar kepentingannya.
Pengalaman Mega Mendung ini selaras dengan temuan Wahdi Azmi di Sumatera. Baik dalam kasus tumpang tindih ruang hidup manusia-gajah maupun integrasi pertanian dan konservasi, intinya tetap sama: keberhasilan upaya menjaga alam sangat dipengaruhi oleh seberapa besar keterlibatan manusia dalam prosesnya.
Kegagalan program konservasi justru kerap berawal dari kurangnya pelibatan masyarakat dan minimnya kapasitas mereka untuk berinovasi serta memperoleh pendapatan dari kegiatan pro-lingkungan. Bila pendekatan konservasi hanya sekadar aturan dari luar dan tidak tumbuh dari kepentingan lokal, daya tahannya sangat rendah. Namun, ketika masyarakat diberdayakan, dilatih dan merasakan manfaat ekonomi secara langsung, konservasi berubah dari beban menjadi kebutuhan bersama serta lebih berkelanjutan.
Pelajaran penting lain adalah tentang kebutuhan pada model konservasi baru: tidak cukup hanya memperluas kawasan yang dilindungi, tetapi perlu rekayasa sosial yang mampu memfasilitasi hubungan harmonis antara ekologi dan ekonomi. Konservasi mesti dipahami sebagai bagian dari sistem kehidupan, yang menyatukan ilmu pengetahuan, aktivitas ekonomi, dan kepedulian lingkungan.
Jika pendekatan integratif ini terus dikembangkan dan diperluas, konservasi bukan lagi sekadar benteng terakhir menghadapi kerusakan, melainkan fondasi penting pembangunan berkelanjutan Indonesia. Pada akhirnya, seperti dikatakan Wahdi, tantangan terbesar bukan sekadar soal bagaimana menjaga alam, melainkan menumbuhkan alasan kuat dalam diri manusia untuk menjaga keberlangsungan lingkungannya sendiri.
Sumber: Wahdi Azmi Sebut Konservasi Harus Memberi Manfaat Bagi Masyarakat
Sumber: Dari Gajah Ke Mega Mendung, Ketika Konservasi Harus Menghidupi












