Berita  

Kurikulum Muatan Lokal SD di Museum Sejarah Kota Makassar

Pada kesempatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-418 Kota Makassar, Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar memberikan kado istimewa bagi dunia pendidikan dengan meluncurkan Kurikulum Muatan Lokal jenjang Sekolah Dasar (SD) di Museum Kota Makassar. Langkah ini tidak hanya sebagai perayaan simbolis, tetapi juga sebagai bentuk nyata komitmen Pemkot dalam membangun pendidikan yang berakar pada kearifan lokal dan nilai budaya Makassar. Program ini juga menjadi momen penting untuk merefleksikan bahwa pendidikan harus tidak hanya sekadar mencetak siswa cerdas secara akademik, tetapi juga membentuk karakter, sopan, dan menghargai warisan leluhur.

Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menggarisbawahi pentingnya pendidikan yang terkait erat dengan nilai budaya. Melalui kurikulum muatan lokal, diharapkan generasi masa kini bisa terhubung dengan warisan nilai-nilai luhur yang mulai tergerus oleh arus modernisasi. Program ini bertujuan untuk memberikan ruang belajar yang membentuk karakter siswa agar mereka bangga dengan budaya lokal mereka sendiri. Peluncuran kurikulum di Museum Kota Makassar memiliki makna simbolis yang mendalam, sebagai tempat yang tidak hanya menyimpan benda bersejarah, tetapi juga sebagai ruang belajar hidup yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan.

Program ini juga melibatkan kalangan akademisi, dengan Universitas Negeri Makassar (UNM) sebagai mitra ilmiah dalam merancang struktur kurikulum yang sesuai dengan konteks budaya daerah. Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar, Achi Soleman, menyampaikan bahwa penerapan Kurikulum Muatan Lokal ini hasil kerja kolaboratif antara Pemkot, sekolah, dan UNM. Tujuannya adalah untuk membangun karakter anak-anak sejak dini dengan mengenal diri mereka, asal-usul mereka, serta bagaimana nilai-nilai lokal bisa membentuk pribadi yang santun dan berakhlak.

Suasana hangat dan bermakna terasa saat peluncuran program ini di Museum Kota Makassar. Melalui langkah ini, Pemkot Makassar dan UNM menunjukkan bahwa pembangunan kota tidak hanya berkaitan dengan infrastruktur fisik, tetapi juga pembangunan karakter dan kebudayaan manusia. Dengan begitu, di tengah modernitas dan teknologi, keberadaan budaya tetap menjadi pondasi utama bagi generasi masa depan. Program ini diharapkan menjadi gerakan berkelanjutan untuk memastikan keberlangsungan nilai budaya di setiap tingkat pendidikan, sehingga anak-anak Makassar bisa tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan berakar kuat.

Source link